Senin, 16 Februari 2009

An Answer to Some Questions

On a breezing midnight..


Ketika gw membaca postingan blog temen gw pada suatu tengah malem, sehabis latihan (ehm) debat... I don't know but somehow, I thought of something more than the story itself...
Something about prayer..


stories of Baba

kebahagiaan,
ada seorang anak yang berteduh di bawah pohon besar bernama pohon pengabul, tiba2 terlintas di pikirannya sebuah pikiran,
oh, seandainya aku jadi orang yang sangat kaya, aku bisa melakukan apapun yang aku mau, oh, aku akan sangat bahagia..
dan dia tertidur di bawah pohon yang rindang itu...
setelah bangun, dia pulang ke rumah..
dan terkejutlah dia begitu masuk kamar, karena di atas tempat tidurnya terdapat banyak permata, ada berlian, emas, perak, topaz, turqoise, dan sebagainya..
dia menjadi begitu kaya dengan menjual permata2 tadi, dan pergilah dia ke kota besar menikmati kekayaannya..
sepuluh tahun berlalu ketika anak tadi yang telah tumbuh dewasa datang lagi ke hutan mencari pohon yang telah mengabulkan keinginannya,
setelah ditemukan, dia mencoba menebang pohon itu dengan mengapaknya.
sambil marah2, pohon sialan, kenapa kau memberikan aku begitu banyak kekayaan, gara2 itu semua hidupku menjadi tidak tenang, banyak orang berusaha menipuku untuk mengungguli kekayaanku, anakku telah diculik 4 kali hanya demi tebusan uang yang tidak seberapa, aku tidak tahu mana teman yang benar2 setia dan mana yang menjadi temanku hanya karena kekayaanku, bahkan aku tahu isteriku menikah denganku hanya karena uangku..
oh pohon, aku benci padamu..
namun pohon itu tidak pernah tumbang, hanya lecet sedikit saja..
dan orang itu tidak pernah tahu bahwa yang sebenarnya dia butuhkan adalah kekayaan hati..
yang dulu pernah dia miliki..

keesokan harinya seorang gadis lewat di bawah pohon itu, karena hari sangat panas dan pohon itu rindang, dia mendekati pohon itu untuk istirahat di bawahnya, sambil berangan-angan untuk menjadi artis terkenal yang dipuja semua orang, oh, pasti dia akan sangat bahagia..
ketika berjalan pulang, bertemulah dia dengan fotografer yang mengatakan bahwa wajahnya memiliki sesuatu yang khas yang bisa membuatnya sukses, orang itu meminta fotonya, dan sebulan kemudian dia telah pergi ke ibu kota, menjadi artis yang telah dikenal semua orang..
sepuluh tahun kemudian, gadis itu datang sambil menangis di bawah pohon ajaib yang dulu mengabulkan permintaannya..
dia mencakari pohon itu sambil meratap
aduh pohon, seandainya dulu kau tidak membuatku terkenal.
karena semuanya ini akan segera membuatku gila. segala gerakanku tidak pernah dilewatkan para pemburu berita hingga aku tidak pernah tenang, semua ketidakberuntunganku dibesar-besarkan hingga aku merasa mau mati saja, dan kekasihku meninggalkanku hanya karena para penjahat itu mengatakan aku berselingkuh dengan temanku sendiri..
oh pohon, bunuh saja aku...
namun pohon itu hanya melambaikan rantingnya seirama angin yang lewat malu-malu..
mengasihani wanita itu karena tidak mampu menghargai dirinya sendiri,
sesuatu yang dulu akan begitu mudah dilakukannya..

tidak lama berselang, datang seorang wanita hamil yang tidak sengaja pula berteduh di bawah pohon itu, sambil mengeluh pada sang pohon,
aduh pohon, mengapa suamiku begitu sibik dengan pekerjaannya, walau dia menyayangiku, hanya sedikit sekali kesempatan kami dapat bersama-sama menikmati waktu.. seandainya saja suamiku lebih memperhatikanku, mencintaiku dengan sangat hingga tak mau berpisah denganku, betapa bahagianya kau nanti, juga anakku ini, semoga kelak mencintai aku sepenuh hati, oh bila benar terjadi, pasti aku akan sangat bahagia..
ibu itu tertidur, dan pulang dengan hati murung..
namun ketika sampai di rumah, suaminya ternyata telah pulang dan menyambutnya seakan seorang ratu, menciuminya, melayaninya, tak pernah beranjak jauh darinya, hatinya berbunga-bunga karena senang..
namun, sepuluh tahun kemudian,
wanita itu berlari-lari menuju pohon pengabul seakan dikejar setan, dia meratap pada pohon itu,
wahai pohon, cabutlah kutukan ini dari hidupku, suamiku tak pernah mau melepasku pergi meski hanya sejenak, hingga aku tidak bisa bekerja padahal aku menyukai pekerjaanku, bahkan dia juga tidak mau bekerja karena tidak mau jauh dariku dan sekarang kami menjadi miskin karena kebodohan kami.. suamiku juga tak pernah mengijinkanku bergaul dengan orang lain karena katanya dia sangat mencintaiku dan tak ingin membagiku dengan orang lain,
anakku juga sama, selalu menempel di kakiku hingga aku tidak pernah bisa bergerak leluasa, merengek2 untuk selalu bersamaku di setiap detik, bahkan dia tidak mau ke sekolah karena katanya tidak betah jauh dariku.. aduh.. apa yang harus aku lakukan...
si pohon turut menyesali wanita itu yang tidak tahu bagaimana caranya mencintai dirinya sendiri.. meski dulu dia pernah bahagia dengan apa yang ada..

dan pada hari2 berikutnya, banyak orang yang datang dengan harapan, dan pergi dengan gembira hanya untuk datang kembali menyesali keinginan mereka,
pohon itu tetap berdiri tegak, mengasihani orang2 yang tidak pernah tahu bahwa mereka telah memiliki cukup untuk berbahagia sepanjang hidup mereka..



Pohon dalam cerita itu.. Tuhan.. adalah sebuah analogi yang sama, sama-sama figur penjawab doa kita...
But there's some difference...

Pohon dalam cerita di atas selalu menjawab doa yang ditujukan kepadanya, meskipun doa itu berujung pada kekecewaan bagi yang memintanya.
lalu, bagaimana dengan Tuhan?
Pernahkah doa kita dikabulkan? Ya, tentu pernah.
Pernahkah doa kita tidak dikabulkan? Ya, tentu saja.

Ada yang bilang, doa kita tidak dikabulkan, karena motivasi kita dalam berdoa yang salah? Benarkah? Untuk beberapa kasus, mungkin juga. Tapi, kadang-kadang bukan itulah jawabannya.
Ada yang bilang, doa kita tidak dikabulkan, karena dosa kita. Well, for someone who upholds the doctrines and dogmas of religions strongly, maybe this is the answer for them. But for me and some peoples, we can't take it for granted. Ada lagi yang bilang, doa kita tidak dikabulkan, karena Tuhan tahu, apa yang terbaik bagi kita. Ya, itu sangat benar, tapi kadang-kadang bukan itulah jawabannya.

Lalu apa jawabannya?

"Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihanNya, yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka? Aku berkata kepadamu: Ia akan segera membenarkan mereka. Akan tetapi, jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi?"

(Luk 18: 7-8)


Dia bukannya tidak menjawab doamu, Dia menjawabnya dengan membuatmu terus bertanya, berharap, dan berdoa.
Dia menunggumu mengucapkan satu-satunya Doa yang ada. Dia menunggumu untuk Hidup, untuk sadar bahwa dirimu diciptakan sempurna, segambar dengan Rupa-Nya. Tidak ada yang bisa melengkapi, atau memberi apa yang sudah sempurna. Dia menunggumu melihat Rectoverso-mu secara utuh, bahwa apa yang kamu perlukan sudah ada dalam dirimu. Karena Tuhan ada di dalam hatimu, itulah kesempurnaan seorang manusia, ketika ia sadar, Tuhan ada di dalam hatinya.
Karena ketika kamu bisa melihat dirimu secara sempurna, ketika itulah Doa mu terkabul.


Banyak orang meminta supaya Tuhan memberi mereka sesuatu, entah itu uang, kecantikan, dan lain-lain seperti cerita di atas, tanpa tahu, bahwa mereka punya itu semua. Ketidakpuasan manusialah yang membuat engkau berdoa, berdoa, berdoa dengan doa untuk kepuasan hatimu belaka. Tidak ada yang salah dengan keinginanmu, tapi ketidaksadaran akan kesempurnaanmu itulah yang salah. Itulah mengapa doamu kadang tidak dikabulkan, karena engkau masih mati. Mati terhadap dirimu sendiri.




Dia hanya diam, menunggumu mengatakan satu-satunya Doa yang ada.

"Tuhan, ajarkan aku untuk menjadi Hidup."


"Barangsiapa memiliki Anak, dia memiliki Hidup; Barangsiapa tidak memiliki Anak, dia tidak memiliki Hidup. Aku dan Bapa adalah Satu."
(1 Yoh 5: 12, Yoh 10:30)

0 komentar:

Posting Komentar